Senin, 27 Desember 2010

WWF: Macan Dahan Borneo Merupakan Spesies Baru


Lihat Biografi
Kapanlagi.com - Macan Dahan Borneo (Neofelis diardi) yang ditemukan di Borneo dan Sumatera diyakini sejumlah ilmuwan sebagai spesies baru yang berbeda dengan macan dahan yang hidup di daratan utama Asia Tenggara. World Wildlife Fund (WWF) dalam keterangan tertulisnya di Pontianak, Jumat, menyatakan, informasi temuan tersebut dipublikasikan beberapa minggu setelah dirilisnya laporan WWF bahwa ilmuwan berhasil mengidentifikasikan tidak kurang dari 52 spesies satwa dan tumbuhan baru di Borneo dalam periode satu tahun saja.


Macan Dahan Borneo


Kepala Laboratorium Keragaman Genom, Institut Kanker Amerika Serikat, Dr Stephen O`Brien menyatakan, penelitian secara genetik secara jelas menunjukkan bahwa macan dahan di Borneo harus dianggap sebagai spesies berbeda dengan macan dahan di Asia Tenggara.
Menurut Stephen O`Brien, menggunakan tes DNA, setidaknya terdapat 40 perbedaan genetik di antara kedua spesies tersebut.
Perbedaan keduanya juga dapat dibandingkan dengan perbedaan yang ada antar spesies kucing besar lainnya semacam singa, harimau, macan tutul dan macan kumbang.
Para peneliti ini yakin populasi macan hutan di Borneo adalah deviasi dari populasi yang ada di daratan utama Asia sekitar 1,4 juta tahun yang lalu.
Hasil studi genetik ini juga didukung oleh riset lainnya yang menelaah pola dan corak warna kulit macan dahan yang disimpan di museum, yang dikoleksi dari berbagai lokasi geografis.
Dr. Andrew Kitchener, dari Departemen Ilmu Pengetahuan Alam, Museum Nasional di Skotlandia, menyatakan, perbedaan juga terlihat ketika warna kulit macan dahan di belahan Asia Tenggara dan yang ditemukan di Borneo dibandingkan.
Macan dahan Borneo memiliki tanda `gelap?. Beberapa ciri-ciri lain sekitar tanda gelap itu yaitu, bulu yang keabu-abuan dan sirip loreng ganda. Semuanya lebih gelap daripada spesies yang ada di daratan utama Asia Tenggara.
Kulit macan dahan Borneo biasanya mempunyai corak berawan yang lebih besar, lebih sedikit dan pucat, serta adanya tutul-tutul dengan kecenderungan bulu kecoklatan dan sebagian loreng ganda.
Stuart Chapman, WWW International Coordinator untuk Heart of Borneo Programme, menambahkan, dengan dinyatakan sebagai spesies yang berbeda, predator utama di hutan Borneo tersebut harus mendapat perlindungan dan menunjukkan pentingnya konservasi di kawasan Heart of Borneo.
Macan dahan tercatat sebagai predator terbesar di Borneo. Tubuhnya terkadang hampir sama dengan Panther ukuran kecil dan memiliki gigi taring terpanjang sebesar ukuran tubuh kucing.
Rusaknya habitat di mana mereka hidup adalah ancaman utama. Habitat terakhir berupa hutan luas bagi macan dahan Borneo ini adalah Heart of Borneo, yaitu areal sekitar 220.000 kilometer per segi di wilayah pegunungan yang tertutup oleh hutan tropis khatulistiwa di tengah-tengah pulau.
Dengan mempertimbangkan kondisi hutan di Borneo, jumlah populasi macan dahan diperkirakan berkisar antara 5.000-11.000 ekor. Total jumlah yang ada di Sumatera sekitar 3.000-7.000 ekor.
Kepala Pusat Penelitian Biologi Indonesia - LIPI, Dr. Dedy Darnaedi mengatakan, masih diperlukan studi lebih lanjut untuk mendapatkan data populasi lebih baik dan perlu komunikasi lebih lanjut dengan Museum Nasional di Skotlandia untuk membandingkan laporan-laporan yang ada sekarang.
Bulan lalu di Bali, para menteri dari tiga Negara- Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia - menandatangani Deklarasi bersejarah untuk melindungi dan mengelola Jantung Borneo secara berkelanjutan. Hal ini menjadikan wilayah tersebut sebagai prioritas konservasi di panggung internasional.
Macan dahan digambarkan secara ilmiah pertama kali pada 1821 oleh ilmuwan Inggris, Edward Griffith (1790-1858). Nama ilmiah macan dahan dari Asia Tenggara adalah Neofelis nebulosa, sedangkan yang di Kalimantan sekarang disebut Neofelis diardi.
Macan dahan hidup di seluruh hutan Kalimantan, mulai dari wilayah pesisir sampai kawasan pegunungan. Tempat tinggal kesukaannya adalah tempat di mana ditemui banyak satwa lainnya, yaitu hutan dataran rendah hingga perbukitan hutan tropis Kalimantan. Biasanya mereka menjauhi wilayah terbuka dengan sedikit pepohonan dan sangat peka terhadap gangguan manusia.
Predator itu memangsa monyet, kancil, kijang, rusa, babi hutan muda, terkadang burung dan reptil (kadal) juga dimakan. (*/rsd) 




http://www.kapanlagi.com/h/old/0000162697.html
Posting Komentar