Senin, 27 Desember 2010

Museum Swiss Tampilkan Dayak Borneo Keliling Benua Eropa dan Amerika


Kapanlagi.com - Museum Kebudayaan Lugano (Museo delle Culture of Lugano), Swiss, berencana menggelar pameran internasional kebudayaan Dayak Borneo ke berbagai negara di Benua Eropa dan Amerika. "Kepala Direktur Museum Budaya Lugano Prof Dr Francesco Campione dan Gubernur Kalimantan Tengah A Teras Narang telah sepakat menjalin kerja sama pergelaran bersama itu, saat Gubernur melakukan pertemuan di Lugano pada 27 Mei lalu," kata Staf Panitia Pameran Museum Lugano, Junita Arneld, saat dihubungi di Kota Lugano, Swiss, Rabu.
Pergelaran itu dilaksanakan menyusul sukses museum milik Pemerintah Kota Lugano itu menyelenggarakan Pameran bertajuk Patong, Great Figures Carved by the People of Borneo, sejak 23 Mei lalu yang mendapat sambutan luas di Eropa.
Pameran keliling itu direncanakan menggandeng Museum Balanga Kalimantan Tengah, sekaligus menggelar pameran serupa di tanah asal budaya Dayak di Pulau Kalimantan, selain rencana pergelaran di Eropa dan Amerika.
"Kami harap, pameran itu nanti tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat internasional tapi juga masyarakat Dayak Kalimantan agar mereka lebih mengetahui dan memahami budaya leluhurnya," katanya.
Sementara hasil diskusi Gubernur Kalteng dengan Direktur Museum Lugano, ujar Junita, mencapai suatu kesimpulan bahwa Pameran Patong merupakan sebuah cerminan dari masa lalu, saat budaya dan lingkungan masyarakat Kalimantan bersanding secara harmoni.
Junita mengemukakan, pameran pertama budaya Dayak yang digelar di Lugano saat ini mendapat respon sangat baik bukan hanya dari publik Swiss, tapi juga publik Eropa pada umumnya.
Pameran itu digelar dalam waktu yang sangat tepat yakni menjelang musim panas, saat orang ramai berwisata di Eropa.
"Kami juga mendapat permintaan keterangan lebih detail soal pameran ini dari Museum Belanda dan dari Universitas Oxford London guna mempelajari katalog yang kami terbitkan," ucap mantan staf di Kedubes Perancis di Indonesia itu.
Antusiasme publik itu muncul karena pameran yang digelar Museum Lugano mampu memberikan gambaran yang lebih luas tentang budaya dan keseharian masyarakat Dayak, melalui benda-benda bersejarah yang puluhan tahun tak terungkap.
Sebanyak 39 objek yang ditampilkan merupakan benda-benda kebudayaan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak Borneo yang selama lebih dari 80 tahun hanya teronggok di gudang penyimpanan sebagai saksi bisu, tanpa penjelasan tentang asal-usul dan sejarah yang menyertainya.
Benda sejarah itu dikoleksi oleh pelukis Swiss Serge Brignoni sejak tahun 1920-an hingga akhirnya dihibahkan ke pihak Museum Lugano pada tahun 1985. Sedangkan sang kolektor sendiri telah meninggal pada tahun 2002. (*/rsd)





http://www.kapanlagi.com/h/old/0000174225.html
Poskan Komentar